Tampilkan postingan dengan label suara hatiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara hatiku. Tampilkan semua postingan
blank mungkin sama dengan kosong
Diluar masih gerimis setelah beberapa menit lamanya hujan lebat mengguyur bumi.
Dingin!
Sangat dingin dengan campuran angin pelan yang mampu menembus celah diantara daun jendela.
Menerpaku serasa sentuhan tangan gadis di wajah sang kekasih.
Sejenak aku terbawa dalam kesepian nan sunyi, sampai sampai kotoran cicak yang jatuh membentur permukaan meja terasa sangat menghentak di telingaku.
Entah kenapa aku tiba tiba mengingatmu, detik detik yang terkumpul dengan warnamu disana hingga menumpuk diantara detik detik yang dalam hari-hariku.
Sungguh , aku tak bisa membantah bahwa aku benar benar ingin mengenalmu, berbincang denganmu tentang banyak hal.
Dan mungkin termasuk penyesalan penyesalanku yang juga tergores dalam tumpukan waktu.
Ya,
penyesalanku.
penyesalan karena aku begitu sombong, seolah bumi ini pun tak pantas menyentuh kakiku.
Dan hari ini, setelah sekian lama ku coba meyakinkan diriku, aku lebih baik dari Tuhanmu,
Ditambah dengan sekian banyak kisah yang datang, kujalani, ku lihat maupun yang kudengar.
Aku sadar sepenuhnya dengan kesadaranku,
bahwa aku hanyalah seorang pengecut yang sombong.
Aku sama sekali tak memiliki cukup keberanian,meski hanya sekedar untuk membayangkan dirimu akan menjadi ini- itu dalam kehidupanku.
Aku hanya berani berpikir tentang aku, hari hariku, dengan barisan detik detik yang terus berjalan maju dengan warna yang aku suka. Meski disana memang benar ada warnamu yang begitu mencolok saat engkau hadir didalamnya.
Dan yang kudapati adalah detik detik dengan warnamu ternyata paling indah diantara tumpukan itu.
Namun aku tetap tidak mampu menjawab” kenapa itu bisa tampak begitu indah?”.
Cinta adalah ketika engkau tidak bisa lagi mendefinisikanya.
God must be crazy
Teratai dikolam halaman rumah selalu mekar ketika arbei hutan mulai meranum.
Dan itu selalu terjadi berulang ulang tapi bukan dalam siklus keteraturan.
Sekuntum bunga yang memang selalu indah, menghiasi ruang sekitarku ketika aku dipasung pergerakan waktu dalam penjara raga sebagai manusia.
Tak pernah kulihat ia mekar secantik hari itu,
dihari hari biasa ketika aku merasa nyaman dalam pasungan.
tapi tatkala aku melepaskan diri dari siklus waktu,
mencari arti lain tentang kehadiran .
ikan, pagar, air dan semuanya, menyeru betapa indah teratai itu.
disaat yang sama, dalam tidurku
arbei hutan tampak sangat ranum menggoda.
disaat itu pula katak yang tak pernah pergi dari pikiranya sendiri juga sempat menyeru:
"cantik nian engkau teratai..."
Demi mendengar itu akupun beranjak bangun dan mengacuhkan ribuan cacing diperutku yang ingin mencicipi arbei hutan.
"maaf aku ingin menjadi saksi keindahan itu!
Setiba disana, tak lebih dua detik kuterpana , satu persatu mahkota itu tanggal,
seolah mataku tak berhak menyaksikan keindahannya.
Inikah hadiah atas apa yang kujalani tempo hari?
Dan itu selalu terjadi berulang ulang tapi bukan dalam siklus keteraturan.
Sekuntum bunga yang memang selalu indah, menghiasi ruang sekitarku ketika aku dipasung pergerakan waktu dalam penjara raga sebagai manusia.
Tak pernah kulihat ia mekar secantik hari itu,
dihari hari biasa ketika aku merasa nyaman dalam pasungan.
tapi tatkala aku melepaskan diri dari siklus waktu,
mencari arti lain tentang kehadiran .
ikan, pagar, air dan semuanya, menyeru betapa indah teratai itu.
disaat yang sama, dalam tidurku
arbei hutan tampak sangat ranum menggoda.
disaat itu pula katak yang tak pernah pergi dari pikiranya sendiri juga sempat menyeru:
"cantik nian engkau teratai..."
Demi mendengar itu akupun beranjak bangun dan mengacuhkan ribuan cacing diperutku yang ingin mencicipi arbei hutan.
"maaf aku ingin menjadi saksi keindahan itu!
Setiba disana, tak lebih dua detik kuterpana , satu persatu mahkota itu tanggal,
seolah mataku tak berhak menyaksikan keindahannya.
Inikah hadiah atas apa yang kujalani tempo hari?
pikiraku
Seandainya aku mampu menuliskan pikiran pikiranku tentangmu dalam lembaran lembaran kertas, niscaya itu tak lebih hanyalah sebutir debu yang pernah menempel diotakku, yang tanpa sengaja membawa sedikit citra tentang dirimu yang ada di disana. Yang akan terurai disitu sangatlah kecil jika disandingkan dengan pikiran, perasaan dan imajinasiku tentangmu yang telah memenuhi setiap jengkal ruangan yang ada
di kepalaku. Dan memang seperti itulah adanya.
di kepalaku. Dan memang seperti itulah adanya.
Saat ini aku hanya memiliki sebagian kecil dari otaku dan mungkin tak lebih dari sepuluh prosen, dimana aku harus menggunakannya untuk beragam aktivitas keseharianku. Bekerja, menulis, merenung dan seluruh aktivitas aktivitas keseharian yang kulakun hanya menggunakan secuil ruang tersisa. Ruang yang sepenuhnya masih kumiliki.Tak heran jika banyak hal dalam hidupku belakangan ini, hanya sekedar berjalan dan terlewati, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas, seolah waktu tak akan habis. Ya seperti itulah aku saat ini, Seorang yang mengaku lelaki dengan pikiran yang teramat sempit.
Mungkin aku terlalu sombong untuk mengakuinya, bahwa diotakku ini sudah hadir seorang penguasa baru, yang telah mampu merebut kekuasaanku, atas neuron-neuron disana, yang seharusnya bisa aku gunakan untuk menggerakan segala sendi kerajaan ragaku. Tangan, kaki, mulut, mata, telinga, semuanya, untuk lebih produktif. Aku tak mampu lagi mengelola segenap syarafku untuk mengadirkan gelombang gelombang ide cemerlang yang dulu begitu mudah kulakukan. Khayalan - khayalan dahsyat tentang kemaslahatan dibumi, perbaikan - perbaikan kehidupan yang terasing dari jaman, semua tak lagi bisa kuhadirkan. Aku lumpuh.
Kesombonganku terlalu jauh membuang kesadaranku atas kelemahan - kelemahanku selama ini hingga sulit kutemukan perintah kepada sepasang mataku ini untuk menatapmu, atau sekumpulan instruksi kepada mulut ini untuk sekedar mengucap " hai " kepadamu, meski itu bukan untuk mengakui kekalahanku mempertahankan kekuasaan atas otakku sendiri dari sang penguasa baru dan untuk mengakui bahwa engkaulah sang penguasa itu.
Mungkin dengan lahirnya tulisan ini, adalah satu pengakuan bahwa aku telah kalah dalam mempertahankan Otakku, Pikiranku. Alunan nyanyian gangsir dan katak di persawahan didepan rumah terdengar sangat sumbang , seakan menertawakan aku yang masih saja terlalu pengecut untuk sekedar membuka mulut, meletupkan serangkai suku kata : “Aku kalah”
Jauh di dalam sana, tak ada cahaya sama sekali ,gelap, pekat. Aku tersesat dalam pemikiran ku, dalam ruang yang selama ini kutempati, yang seharusnya aku hafal setiap relung ruang yang ada di sini, setiap belokan, setiap lembah, setiap tanjakan pohon dan lobang yang ada. Ruang yang sebenarnya sudah sangat sempit yang masih tersisa untuk kutempati. Semua Ucapan, teriakan mungkin takakan berarti dari sini. Karena memang ini adalah rumahku, miliku yang masih kumiliki dan tak berpindah posisi. Tak ada yang melihat , bahwa ini sudah diambil alih seseorang penguasa baru. Yang aku gambarkan sebagai seorang sombong, kejam ,angkuh layaknya Prabu Dewata Cengkar dalam kisah Ajisaka. Tak lebih itu hanya gambaran yang aku bangun tentang sang penguasa baru dalam pikiranku ini, tanpa pernah aku melihat mimik wajahnya, mendengar tutur katanya, dan aku pun tak ingin tahu seperti apa wujudnya.
Mungkin memang benar adanya kalau aku adalah seorang pengecut yang sombong. Tak perlu aku mengenal seseorang,karena aku bias menjadi tuhan dalam hidupku. Sendiri.
Atau kah ini adalah hasil tempaan selama setengah windu ini, doktrin dogtrin dogmatis yang sangat kuat mengakar dalam dasar pikiranku, membuat aku kesulitan untuk bisa belajar melihat dengan mataku sendiri, mendengar dengan telingaku sendiri dan menyimpulkan dari penginderaanku sendiri. Aku bisa mengatakan benar jika sang Pandu menuliskan benar. Penginderaanku hanya mampu melihat sebatas apa yang dikatakan sang Pandu. BUKU. Sama sekali tidak terlatih lagi jika harus tersesat dalam gelap seperti ini. Mungkin inilah yang sebenarnya membuatku sombong dan melatihku untuk jadi pengecut yang selalu bersembunyi atas nama tulisan sang Pandu. Ya benar Sampai saat ini aku masih seperti ini.
*****
Dan ketika sketsa jalan itu sudah buat, aku pun tak perlu membangun instruksi instruksi konyol untuk mulutku, tenggorokanku dan setiap aksesoris pendukung organ penghasil suara yang ada, untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan tentang diriku, kamu dan tentang kita dimasa depan.
Aku cukup mendatangimu dan engkau melihat sendiri ketersesatanku yang melibatkan setiap detail tentangmu selama ini. Tak perlu lagi mulut ini harus berucap, kau percaya aku memang sudah jatuh cinta.
****
it`s a gift ?
Saat ini aku hanya memiliki sebagian kecil dari otaku dan mungkin tak lebih dari sepuluh prosen, dimana aku harus menggunakannya untuk beragam aktivitas keseharianku. Bekerja, menulis, merenung dan seluruh aktivitas aktivitas keseharian yang kulakun hanya menggunakan secuil ruang tersisa. Ruang yang sepenuhnya masih kumiliki.Tak heran jika banyak hal dalam hidupku belakangan ini, hanya sekedar berjalan dan terlewati, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas, seolah waktu tak akan habis. Ya seperti itulah aku saat ini, Seorang yang mengaku lelaki dengan pikiran yang teramat sempit.
Mungkin aku terlalu sombong untuk mengakuinya, bahwa diotakku ini sudah hadir seorang penguasa baru, yang telah mampu merebut kekuasaanku, atas neuron-neuron disana, yang seharusnya bisa aku gunakan untuk menggerakan segala sendi kerajaan ragaku. Tangan, kaki, mulut, mata, telinga, semuanya, untuk lebih produktif. Aku tak mampu lagi mengelola segenap syarafku untuk mengadirkan gelombang gelombang ide cemerlang yang dulu begitu mudah kulakukan. Khayalan - khayalan dahsyat tentang kemaslahatan dibumi, perbaikan - perbaikan kehidupan yang terasing dari jaman, semua tak lagi bisa kuhadirkan. Aku lumpuh.
Kesombonganku terlalu jauh membuang kesadaranku atas kelemahan - kelemahanku selama ini hingga sulit kutemukan perintah kepada sepasang mataku ini untuk menatapmu, atau sekumpulan instruksi kepada mulut ini untuk sekedar mengucap " hai " kepadamu, meski itu bukan untuk mengakui kekalahanku mempertahankan kekuasaan atas otakku sendiri dari sang penguasa baru dan untuk mengakui bahwa engkaulah sang penguasa itu.
******
Mungkin dengan lahirnya tulisan ini, adalah satu pengakuan bahwa aku telah kalah dalam mempertahankan Otakku, Pikiranku. Alunan nyanyian gangsir dan katak di persawahan didepan rumah terdengar sangat sumbang , seakan menertawakan aku yang masih saja terlalu pengecut untuk sekedar membuka mulut, meletupkan serangkai suku kata : “Aku kalah”
Jauh di dalam sana, tak ada cahaya sama sekali ,gelap, pekat. Aku tersesat dalam pemikiran ku, dalam ruang yang selama ini kutempati, yang seharusnya aku hafal setiap relung ruang yang ada di sini, setiap belokan, setiap lembah, setiap tanjakan pohon dan lobang yang ada. Ruang yang sebenarnya sudah sangat sempit yang masih tersisa untuk kutempati. Semua Ucapan, teriakan mungkin takakan berarti dari sini. Karena memang ini adalah rumahku, miliku yang masih kumiliki dan tak berpindah posisi. Tak ada yang melihat , bahwa ini sudah diambil alih seseorang penguasa baru. Yang aku gambarkan sebagai seorang sombong, kejam ,angkuh layaknya Prabu Dewata Cengkar dalam kisah Ajisaka. Tak lebih itu hanya gambaran yang aku bangun tentang sang penguasa baru dalam pikiranku ini, tanpa pernah aku melihat mimik wajahnya, mendengar tutur katanya, dan aku pun tak ingin tahu seperti apa wujudnya.
Mungkin memang benar adanya kalau aku adalah seorang pengecut yang sombong. Tak perlu aku mengenal seseorang,karena aku bias menjadi tuhan dalam hidupku. Sendiri.
Atau kah ini adalah hasil tempaan selama setengah windu ini, doktrin dogtrin dogmatis yang sangat kuat mengakar dalam dasar pikiranku, membuat aku kesulitan untuk bisa belajar melihat dengan mataku sendiri, mendengar dengan telingaku sendiri dan menyimpulkan dari penginderaanku sendiri. Aku bisa mengatakan benar jika sang Pandu menuliskan benar. Penginderaanku hanya mampu melihat sebatas apa yang dikatakan sang Pandu. BUKU. Sama sekali tidak terlatih lagi jika harus tersesat dalam gelap seperti ini. Mungkin inilah yang sebenarnya membuatku sombong dan melatihku untuk jadi pengecut yang selalu bersembunyi atas nama tulisan sang Pandu. Ya benar Sampai saat ini aku masih seperti ini.
*****
Seandainya saja ada gadged yang mampu menvisualkan isi otakku,mungkin aku bisa merunut jalan jalan berkelok nan rumit yang sudah kutempuh selama ini. Memetakan kembali ruang ruang yang ada disini meski dalam sketsa sederhana, tapi pasti akan sangat membantuku, keluar dari ketersesatanku. Atau mungkin bisa aku gunakan untuk mencari satu jalan baru yang lebih nyaman dan landai tentang kemana dan apa yang kutuju. Bisa juga menuntun jalanku menuju tahtamu disana, dan manakyinkan sendiri dengan mata kepalaku, bahwa engkau sama sekali berbeda dengan apa yang kuyakini selama ini. Bahwa engkau pantasmenjadi penguasa di pikiranku. Bahwa engkau adalah benar benar calon peguasa surga yang akan dipuja bibir keturunanku.
Dan ketika sketsa jalan itu sudah buat, aku pun tak perlu membangun instruksi instruksi konyol untuk mulutku, tenggorokanku dan setiap aksesoris pendukung organ penghasil suara yang ada, untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan tentang diriku, kamu dan tentang kita dimasa depan.
Aku cukup mendatangimu dan engkau melihat sendiri ketersesatanku yang melibatkan setiap detail tentangmu selama ini. Tak perlu lagi mulut ini harus berucap, kau percaya aku memang sudah jatuh cinta.
****
suara hatiku
Pengetahuan ada dua macam yaitu yang telah kita ketahui dengan sendirinya atau yang hanya kita ketahui dimana ia bisa didapatkan.
dia sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan; tetapi kalau kita sabar, kita segera akan melihat bentuk aslinya.
Bagian terbaik dari hidup seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain.
Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
Teman sejati adalah ia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda.
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
Jadilah diri anda sendiri. Siapa lagi yang bisa melakukannya lebih baik ketimbang diri anda sendiri?
Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi.
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
Kesempatan anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan anda pada diri sendiri.
Meski anda menyembunyikan pikiran buruk dalam hati anda, tetap akan terpancar kekuatan kelam. Pikirkan cinta, meski tak mengucapkannya, maka duniapun akan terasa lebih terang.
"berSyukUrlaH aP Yg KMu dPtkan kareNa oRang laeN blum tenTu menDapaTkan sEpErtI aP yg Km DptkN,JanGaNlaH BErsEdih dG Apa Yg Km miLiKI KRna OrG laEn bLM teNtu mEmiLikI sEpErTi Apa Yg km MiliKi'' ''by;crizt'':-)
dia sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan; tetapi kalau kita sabar, kita segera akan melihat bentuk aslinya.
Bagian terbaik dari hidup seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain.
Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
Teman sejati adalah ia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda.
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
Jadilah diri anda sendiri. Siapa lagi yang bisa melakukannya lebih baik ketimbang diri anda sendiri?
Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi.
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
Kesempatan anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan anda pada diri sendiri.
Meski anda menyembunyikan pikiran buruk dalam hati anda, tetap akan terpancar kekuatan kelam. Pikirkan cinta, meski tak mengucapkannya, maka duniapun akan terasa lebih terang.
"berSyukUrlaH aP Yg KMu dPtkan kareNa oRang laeN blum tenTu menDapaTkan sEpErtI aP yg Km DptkN,JanGaNlaH BErsEdih dG Apa Yg Km miLiKI KRna OrG laEn bLM teNtu mEmiLikI sEpErTi Apa Yg km MiliKi'' ''by;crizt'':-)
Langganan:
Postingan (Atom)